Mari Bergabung


Minggu, 03 Mei 2009

BERDAGANG ALIAS JUAL BELI ALA CALEG DI PEMILU 2009.


By : Dedi S


Sebagian besar dari masyarakat kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan yang namanya Money Politics atau lebih popular dngan politik uang. Ya sebuah teknik atau cara yang justru popular digunakan oleh para Calon legeslatif (Caleg) oleh berbagai Partai politik (Parpol) peserta pemilu baik di Indonesia maupun di dunia. Mungkin ada beberapa alasan yang bisa kita jadikan acuan kenapa para caleg menggunakan politik DO'IT alias POLITIK UANG ini:

1. Caleg yang bersangkutan memang tidak memiliki kualitas dan kapabilitas di dunia perpolitikan, jadi untuk mendapatkan suara mereka harus membelinya.

2. Caleg tersebut memang tidak dikenal oleh masyarakat. Ya mungkin saja karena beliau-beliau para caleg ini tidak pernah berbuat sesuatu yang mengesankan dalam arti positif selama menyandang gelar wakil rakyat yang membuat masyarakat bisa mengenal mereka, atau bahkan melakukan sesuatu namun bertentangan dengan kehendak dan hati nurani rakyat sehingga menimbulkan antipati dari masyarakat itu sendiri, sehingga mereka harus merogoh kocek dalam-dalam lagi untuk meraih simpati masyarakat.

3. Mereka mungkin belum sadar atau juga belum mengenal realita masyarakat sekarang yang sedikit tidak mulai terbuka wawasan dan pandangannya mengenai dunia perpolitikan, maksud saya dibandingkan masyarakat dahulu kedewasaan berpolitik masyarakat sekarang sedikit lebih maju. Jadi pendapat saya POLITIK UANG ini tidak akan mampu membeli otak masyarakat kita yang semakin sadar dan dewasa ini.

4. Para caleg ini mungkin memang sudah tidak punya akhlak lagi sehingga mereka harus menggunakan alias menghalalkan segala cara untuk meraih dukungan public guna melancarkan perjalanan mereka menuju kursi yang sebagian orang menganggapnya sebagai kursi yang terhormat. Mungkin akan timbul pertanyaan apakah orang yang akan duduk dikursi terhormat itu nanti adalah orang terhormat?, jika untuk mendudukinya saja harus melalui prosesi yang disebut Money Politics alias politik uang?

5. Terakhir mungkin memang para Politikus alias Caleg ini memang mau BERDAGANG. Maksud saya dengan modal yang ada mereka membeli barang abstrak berupa suara rakyat dengan kata lain menjadikan rakyat sebagai barang dagangannya kemudian setelah itu mereka tinggal duduk di tokonya yang tidak lain adalah sebuah lembaga yang disebut Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) serta mencari keuntungan yang besar melalui berbagai macam teknik yang mereka kenal mulai dari pengelembungan anggaran, rapat anggaran, kunjungan luar negeri, studi banding, proyek ini itu dan berbagai macam teknik yang mereka anggap jitu dan tok-cer untuk bisa mengembalikan modal dan mendapatkan keuntungan yang besar sebagaimana perinsip ekonomi yang ada yaitu ”dengan modal minimal kita mendapatkan keuntungan yang maksimal.

Jadi saran saya bagi para pemilih khususnya masyarakat NTB wabilkhusus masyarakat kabupaten Sumbawa dan masyarakat Indonesia umumnya dalam pesta demokrasi yang sudah di depan mata ini, marilah kita gunakan hak pilih kita untuk memilih wakil kita dengan melihat background atau latar belakangnya, track record, kualitas, personality, dan sudah barang tentu akhlaknya. Jangan sampai suara kita jatuh pada orang-orang tidak bertanggung jawab yang memperdagangkan nasib rakyat dan bangsa ini dngan murah.

Ada yang bilang suara hati kita adalah suara Tuhan jadi jangan sampai jatuh pada tangan Iblis. Suara kita adalah devisa atau aset yang akan membawa kita pada suatu kemakmuran dan kesejahteraan jika kita manfaatkan dengan tepat. Tapi bias juga menjadi boomerang ataupun bom waktu yang sewaktu-waktu akan menghancurkan Bangsa dan Negara ini jika kita berikan pada orang yang salah terlebih orang-orang yang sengaja memperjual-belikan nasib rakyat.


Tulisan ini sebelumnya sudah dipublikasikan di www.sumbawanews.com di kolom opini skitar akhir maret 2009

0 komentar: