Mari Bergabung


Selasa, 26 Mei 2009

Deforestasi Mangrove dan Pencemaran Perairan Pengaruhnya Terhadap Hasil Tangkapan Ikan Di Kota Semarang Jawa Tengah

Oleh : Dedi Syafikri
Email : fik_marine@yahoo.co.id



1. Dampak Deforestasi Mangrove, Terhadap Hasil Tangkapan Ikan Di Kota Semarang


Sumberdaya wilayah pesisir dan laut, merupakan sumberdaya yang bersifat open access dan common property, sehingga setiap orang/stakeholder berhak memanfaatkannya dengan tujuan memperoleh nilai atau keuntungan secara ekonomi (economic rent). Pola pemanfaatan yang demikian cenderung mengarah kepada deplesi sumberdaya, sehingga jika tidak ada upaya untuk menjaga kelestariannya seperti konservasi dikhawatirkan terjadi kelangkaan (scarcity) sumberdaya yang mengarah kepada kepunahan. Hal ini bukan hanya sekedar teori belaka namun sudah sangat nyata dan begitu mudah kita jumpai dalam kehidupan sekarang ini. Misalnya pemanfaatan hutan mangrove yang tidak proporsional sehingga mengakibatkan keseimbangan ekosistem yang bersimbiosis dengannya ikut pula merasakan dampaknya, misalnya terjadi penurunan stock ikan di laut yang pada akhirnya berpengaruh pada hasil tangkapan neyan.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa hutan mangrove memiliki fungsi dan peranan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem perairan khususnya wilayah pesisir. Secara ekologis mangrove merupakan penyedia nutrient terbesar di lingkungan estuaria. Hutan mangrove menjadi sumber nutrient dan tempat mencari makan (feeding ground) bagi ikan baik yang hidup menetap (sedentary) di area mangrove tersebut maupun bagi ikan peruaya (migratory). Mangrove juga sangat berperan dalam menjaga kesetabilan dan transfer energi dalam rantai makanan. Daun mangrove yang jatuh dan masuk ke dalam air kemudian teruraikan oleh mikro organisme (bakteri dan jamur). Hasil penguraian ini merupakan makanan bagi larva dan ikan kecil dan pada gilirannya menjadi mangsa ikan yang lebih besar yang bermukim atau berkunjung ke habitat mangrove tersebut.

Selain berperan sebagi feeding ground bagi biota perairan termasuk ikan, hutan mangrove juga berperan sebagi tempat untuk melakukan proses reproduksi misalnya bertelur dan memijah atau biasa disebut sebagai spawning ground, tempat mengasuh dan membesarkan (nursery ground), dan juga sebagai tempat berlindung yang aman bagi berbagai juvenil dan larva ikan serta kerang (shellfish) dari predator.

Luasan mangrove di bagian pesisir utara kota Semarang tahun 2003 adalah 135.358 ha dan jumlahnya mengalami penurunan pada tahun 2006 menjadi 93.560 ha. Sebagian besar diduga disebabkan oleh adanya deforestasi mangrove (konversi lahan) menjadi peruntukan lain misalnya pemukiman, lahan pertambakan dan industri. Dengan berkurangnya luasan area mangrove maka secara ekologis tempat yang biasa dimanfaatkan oleh ikan untuk mencari makan, melakukan kegiatan reproduksi, pengasuhan dan perlindungan dengan sendirinya juga akan semakin berkurang. Hal ini tentunya akan menghambat proses recruitment dari organisme yang berasosiasi dengan tumbuhan mangrove ini khususnya bagi ikan-ikan yang hidup di sekitar area tersebut maupun bagi ikan peruaya (migratory), sehingga dampak berikutnya yang terjadi adalah berkurangnya ketersediaan atau stock ikan di laut. Hal itu terbukti dengan penurunan hasil tangkapan nelayan dari 263.519 kg (tahun 2003) menjadi 14.996 kg (tahun 2006). Dengan demikian diduga ada keterkaitan antara luasan mangrove dengan proses recruitment ikan dan biota laut lainnya yang pada akhirnya berpengaruh pada ketersediaan atau stock ikan yang tergambar dari menurunnya jumlah hasil tangkapan nelayan di kota Semarang.

Menurunnya kualitas dan juga kuantitas (ukutan dan jumlah) dari hasil tangkapan ikan para nelayan di kota Semarang maupun di Indonesia atau bahkan juga di dunia, secara umum diakibatkan oleh ketersediaan stock ikan di laut dewasa ini mengalami penurunan. Hal ini setidaknya diakibatkan oleh dua hal pokok yaitu, pertama proses recruitment biota dalam hal ini ikan, yang meliputi kelahiran (natality) dan pertumbuhan dan kedua adalah kematian (mortality) yang diakibatkan oleh penengkapan dan penyakit. Sedangkan factor lain yang ikut memberi pengaruh adalah emigrasi dan imigrasi. Namun secara umum dan berdasarkan realita yang ada kemampuan recruitment ikan dan besarnya jumlah penangkapan merupakan factor penentu utama ketersediaan atau stock ikan di laut.

Berbicara mengenai recruitment tentunya terkait dengan factor-faktor yang mendukung proses perekrutan tersebut. Beberapa diantaranya adalah tempat dimana proses recruitment itu berlansung, dan apa yang dibutuhkan selama proses recruitment. Secara umum biota perairan sebagai contoh ikan biasanya melakukan proses reproduksi dan bertelur di area hutan mangrove. Hal ini dilakukan karena selain relative aman untuk proses pembuahan juga untuk menghindari pemangsaan dari hewan-hewan predator yang akan memangsa telur dan larva ikan tersebut. Kawasan mangrove cenderung lebih terlisolasi jika dibandingkan dengan perairan terbuka lainnya misalnya lautan lepas. Untuk itu ikan dan organisme perairan lainnya memilih hutan mangrove sebagai tempat untuk berreproduksi (spawning) sekaligus sebagai area pengasuhan dan pembesaran (nursery ground). Selain menyediakan tempat berlindung, kawasan hutan mangrove juga menyediakan nutrient yang cukup untuk dimanfaatkan selama masa reproduksi (spawning), dan juga pertumbuhan baik larva, juvenile maupun ikan dewasa.

Secara fisiologis beberapa jenis ikan khususnya ikan demersal dan pelagic mengalami siklus hidup yang mana salah satu mata rantai siklusnya adalah berada di perairan bersalinitas lebih rendah dibandingkan salinitas air laut biasanya, misalnya di perairan sekitar muara sungai (estuary) atau biasanya di area hutan mangrove. Beberapa jenis ikan ini ada yang masa larva dan juvenilnya di kawasan mangrove kemudian dewasanya di laut lepas, ada pula yang memang aktifitas spawningnya di lakukan di area mangrove. Maka bagi ikan jenis ini, hutan mangrove menjadi suatu tempat yang sangat penting bagi proses recruitment untuk mempertahankan keberlansungan hidupnya. Sedangkan bagi ikan-ikan peruaya (migratory) kawasan mangrove biasa digunakan sebagai tempat peristirahatan sementara sebelum melanjutkan peruayaannya.


2. Dampak Pencemaran Terhadap Hasil Tangkapan Ikan Di Kota Semarang

Lingkungan pantai khususnya daerah estuaria merupakan daerah yang sangat rentan dan selalu mengalami perubahan, karena daerah tersebut menjadi tempat bertemunya dua kekuatan, yaitu yang berasal dari daratan berupa aliran air sungai yang membawa asupan sedimen dan mineral lainnya dari daratan serta yang berasal dari lautan yang berupa arus, gelombang dan pasang-surut.

Secara ekologis perairan estuaria juga memiliki peran yang hampir sama dengan hutan mangrove. Dimana kawasan ini sering dimanfaatkan sebagai spawning ground, nursery ground dan feeding ground oleh ikan dan organisme laut lainnya. Kerusakan estuary yang diakibatkan oleh pencemaran dan degradasi lingkungan lainnya mengakibatkan fungsi ekosistem tersebut tidak berjalan maksimal. Sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi proses recruitment biota di laut khususnya ikan. Sebagaimana kita sadari kegagalan recruitment tentunya akan berimplikasi pada kualitas dan jumlah stock sumberdaya ikan yang tersedia di laut.

Aktivitas manusia merupakan penyebab utama dari terjadinya polusi di laut dunia. Sebagian besar polusi yang terjadi di laut berasal dari aktivitas di darat misalnya industri, pertanian dan pariwisata. Aktivitas tersebut akhirnya menimbulkan dampak berupa hancurnya terumbu karang, penumpukan sampah, timbunan zat kimia berbahaya, sampai peningkatan suhu permukaan laut sehingga mengakibatkan terganggunya keseimbangan ekosistem yang ada di laut. Global warming (pemanasan global) merupakan salah satu penyebab perubahan dari struktur kimia yang ada di lautan dan proses perubahan ekosistem laut lainnya, dan hal tersebut merupakan ancaman terhadap jutaan spesies biota laut yang tidak dapat bertahan dengan temperatur yang tinggi termasuk beberapa jenis ikan yang menjadi sasaran tangkap para nelayan.

Tingkat pencemaran di pesisir utara Jawa Tengah saat ini sangat memperihatinkan. Di sepanjang wilayah pesisir dan pantai kota Semarang misalnya terdapat berbagai macam aktifitas manusia diantaranya; pertambakan, pemukiman penduduk, pariwisata, arus transportasi laut yang masuk dan keluar pelabuhan Tanjung Emas, serta kegiatan peridustrian. Aktifitas-aktifitas ini tentunya akan memberikan dampak dan tekanan bagi lingkungan perairan khususnya estuary. Limbah industri dan rumah tangga, sebagian besar dibuang ke kelaut melalui aliran sungai kemudian sampai ke estuary dan pada akhirnya masuk ke laut. Begitu pula dengan limbah yang ditimbulkan oleh kegiatan pariwisata dan bahkan sauh kapal juga dibuang di sekitar area ini. Limbah-limbah tersebut sangat berbahaya bagi kelansungan hidup organisme perairan dan juga mempengaruhi siklus hidup dan juga ketersediaan ikan di laut serta kesehatan manusia yang memakannya.

Beberapa kajian dan penelitian telah membuktikan bahwa perairan estuari di sepanjang pantai kota Semarang telah terjadi pencemaran terutama logam berat Cu, Cr, Cd, Zn, dan Pb ditemukan sudah melewati ambang batas. Khusus Cu, bahkan kadarnya telah melewati ambang batas, sampai di perairan laut. Bahan pencemar biasanya terakumulasi melalui proses bioakumulasi dan biomagnifikasi dalam jaringan tubuh ikan dan hewan air lainnya, sehingga kadar bahan pencemar dapat mencapai level yang berbahaya baik bagi kehidupan ikan dan hewan air tersebut. Dalam Widodo (1980) dikatakan bahwa toksisitas logam-logam berat yang melukai insang dan struktur jaringan luar lainnya, dapat menimbulkan kematian terhadap ikan yang disebabkan oleh proses anoxemia, yaitu terhambatnya fungsi pernapasan yakni sirkulasi dan eksresi dari insang. Unsur-unsur logam berat yang mempunyai pengaruh terhadap insang adalah timah, seng, besi, tembaga, kadmium dan merkuri.

Banyak hasil penelitian yang menyatakan pengaruh logam berat ini terhadap biota. Pengaruhnya dapat berupa gangguan fisik misalnya perubahan bentuk dan ukuran tubuh ikan, gangguan fisiologis berupa menurunnya jumlah telur (fekunditas), mempengaruhi tingkat fertilisasi, indeks kematangan gonat, bahkan juga dapat mempengaruhi sifat genetika dari biota yang tercemar. Dampak selanjutnya adalah meningkatnya kematian larva (mortalitas tinggi) sampai pada menurunnya tingkat atau kemampuan hidup (survival rate) biota (larva, juvenile, maupun dewasa). Dikatakan dalam FAO (1971) bahwa sifat toksis yang lethal dan sublethal dari bahan pencemar dapat menimbulkan efek genetik maupun teratogenik terhadap ikan dan biota perairan lainnya misalnya terjadi gangguan pada saraf pusat sehingga ikan tidak bergerak atau bernapas sampai akhirnya menimbulkan kematian. Hal ini juga di pertegas oleh Harris (1971) dalam Sanusi (1980) pengaruh pencemaran merkuri terhadap ekologi bersifat jangka panjang, yaitu meliputi kerusakan struktur komunitas, keturunan, jaringan makanan, tingkah laku hewan air, fisiologi, resistensi maupun pengaruhnya yang bersifat sinergisme.

Bagi biota pelagis yang memiliki kemampuan berpindah (migratory), mereka memilih untuk mencari perairan yang lebih sesuai dan mendukung proses kehidupan dan juga recruitmentnya, sedangkan bagi biota yang bersipat menetap (sedentary) cenderung mengakumulasi bahan pencemar tersebut dengan resiko terkena dampak dari polutan tersebut. Dengan demikian wajar jika stock ikan di perairan Semarang menjadi rendah dan hasil tangkapan nelayan mengalami penurunan.

Semakin meningkatnya upaya pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut yang kurang berwawasan lingkungan akan berdampak terhadap penurunan produktivitas primer perairan. Akibat lebih jauh adalah terjadinya penurunan kualitas perairan yang berimplikasi pada proses pemulihan (renewable) dan pengrekrutan (recruitment) biota termasuk ikan misalnya pada proses pertumbuhan, perkembangan, bahkan sangat mungkin mempengaruhi tingkat keanekaragaman jenis dan juga genetic ikan dan organisme perairan laut lainnya, sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi jumlah dan kualitas stock ikan di laut.


3. Kesimpulan

Deforestasi hutan mangrove menjadi kawasan pertambakan, perumahan, pariwisata dan juga industri serta pencemaran khususnya oleh beberapa unsur logam berat (Cu, Cr, Cd, Zn, dan Pb) akan menimbulkan tekanan dan degradasi lingkungan khususnya lingkungan pantai dan estuary . Degradasi tersebut berdampak pada rusak dan hilangnya habitat vital (spawning ground, nursery ground dan feeding ground) perairan pantai Semarang. Degradasi lingkungan pantai di Semarang ini memiliki keterkaitan dengan berkurangnya ketersediaan atau stock ikan di perairan ini sehingga berimplikasi pada menurunnya kuantitas dan juga kualitas hasil tangkapan nelayan setempat. Hal ini sekaligus memberi gambaran bahwa di perairan ini terindikasi telah mengalami over-fishing.


4. Saran

Beberapa hal yang dapat disarankan dari hasil pembahasan makalah ini dapat dijadikan sebagai bentuk upaya pengelolaan terhadap kondisi lingkungan pesisir di Kota Semarang, seperti dijelaskan sebagai berikut :
 Kerusakan hutan mangrove dapat diminimalisasi dengan melakukan penanaman kembali (reforestasi) mangrove dan realisasi sempadan sungai (50 m) dan sempadan pantai (100 m).
 Sedangkan untuk menanggulangi masalah pencemaran, pemerintah harus mempertegas peraturan mengenai tata cara pembuangan limbah termasuk mengontrol pemakaian instalasi pengolahan air limbah (IPAL) oleh industri yang berada di sepanjang pesisir Kota Semarang, sekaligus memberi sangsi tegas bagi yang melanggarnya.



DAFTAR PUSTAKA

FAO, 1971. Pollution An International Problem For Fisheries. Fishery Resources Division, Rome. 85 p.

Widodo, J, 1980. Toksisitas Biota Laut Disebabkan Oleh Pencemaran Merkuri. LPPL Semarang. 6 p.

Sanusi, Harpasis S, 1980. Sifat-sifat Logam Berat Merkuri Di Lingkungan Perairan Tropis. Pusat Studi Pengelolaan Sumber Daya Dan Lingkungan, Fakultas Perikanan IPB, Bogor. 19 p.




0 komentar: