
Namun demikian sumberdaya kekerangan tetap memiliki potensi untuk dikembangkan di Kabupaten Sumbawa, mengingat produk kekerangan merupakan salah satu komoditi perikanan yang sangat populer dan banyak diperdagangkan baik di pasar domestik maupun pasar ekspor. Kekerangan memiliki nilai komersial yang cukup tinggi dan juga banyak diminati masyarakat, karena dagingnya lezat dan bergizi tinggi serta memiliki nilai estetika. Selain itu, berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Nusa Tenggara Barat, Kabupaten Sumbawa memiliki potensi areal budidaya laut untuk komoditas kekerangan seluas 6.000 ha. Beberapa peneliti dalam kajiannya memaparkan kekerangan sudah banyak dimanfaatkan dalam berbagai macam bentuk produk, mulai dari makanan, kosmetik dan obat-obatan, sampai pada perhiasan yang sangat berharga yaitu mutiara. Tidak hanya itu beberapa jenis kekerangan misalnya kerang Polymesoda erosa dan Anadara sp. dapat dijadikan bioindikator dalam proses biomonitoring pencemaran logam berat di suatu perairan.
Melihat peluang dan potensi ekonomis pengembangan budidaya kekerangan sebagaimana dipaparkan di atas, rasanya bukan suatu hal yang sulit jika budidaya kekerangan ini dilakukan di Kabupaten Sumbawa. Hal ini didukung dengan tingginya minat atau kegemaran masyarakat mengkonsumsi kekerangan beserta produk olahannya karena memiliki rasa yang enak dan bernilai gizi tinggi. Demikian pula pemahaman mereka juga cukup besar mengenai prospek kekerangan jika dimodifikasi dalam bentuk produk-produk olahan yang berbahan dasar kekerangan misalnya makanan, perhiasan maupun bentuk kerajinan tangan lainnya seperti yang telah dilakukan oleh daerah lainnya di luar Kabupaten Sumbawa. Selain itu, salah satu kendala utama perusahaan-perusahaan mutiara yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Barat khususnya di Kabupaten Sumbawa sampai saat ini adalah ketersediaan benih mutiara yang tidak memadai. Hal ini tentunya bisa dijadikan suatu peluang usaha baik oleh pemerintah maupun swasta dengan memberdayakan masyarakat lokal untuk mengupayakan penyediaan benih mutiara melalui kegiatan budidaya. Ini sangat mungkin dilakukan mengingat potensi lahan yang dimiliki Kabupaten Sumbawa untuk usaha ini masih luas dan belum termanfaatkan dengan optimal.
Selain dapat memberikan keuntungan secara ekonomis dengan bertambahnya pendapatan masyarakat dan berkurangnya pengangguran khususnya dikalangan masyarakat nelayan, aktifitas budidaya juga diharapkan dapat memberikan manfaat biologi dan ekologi serata dapat dijadikan salah satu strategi atau solusi kongkrit untuk mengatasi permasalahan menurunnya stok perikanan sebagai akibat dari penangkapan, perubahan iklim global dan berbagai faktor alam lainnya agar tetap bisa lestari sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Hal ini sesuai dengan tujuan utama dari penge¬lolaan perikanan adalah untuk menjaga kelestarian produksi dari sumberdaya perikanan sehingga dapat dimanfaatkan secara berkesinambungan melalui berbagai regulasi serta tindakan perbaikan (enhancement) untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan serta untuk memenuhi keperluan industri yang memanfaatkan produksi tersebut (mencapai tujuan biologi, ekologi, ekonomi dan sosial). Pemanfaatan yang ideal terhadap potensi sumberdaya perikanan adalah memperoleh hasil yang maksimal dari sumberdaya perikanan tersebut secara terus-menerus dan berkelanjutan serta sumberdaya tersebut masih memiliki kemampuan untuk berproduksi.
Pola Pemanfaatan dan Pengelolaan Kekerangan di Kabupaten Sumbawa
Berdasarkan pada hasil wawancara dan pengamatan di lapangan, didapatkan setidaknya dua pola atau kategori pemanfaatan dan pengelolaan kekerangan di Kabupaten Sumbawa yang dalam kajian ini penulis menggolongkannya menjadi pola modern dan tradisional (Ilustrasi 1 dan 2). Dalam kategori modern, masyarakat/stakeholder lebih banyak menerapkan unsur-unsur IPTEK untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam memanfaatkan sumberdaya kekerangan. Ciri lainnya adalah memerlukan dana dan investasi yang relatif besar, harga dan pangsa pasarnya sudah jelas serta dikelola dengan manajemen yang baik, contohnya budidaya tiram mutiara (Pinctada sp.). Sebaliknya dalam pola pemanfaatan dan pengelolaan dengan kategori tradisional, masyarakat/stakeholder memanfaatkan sumberdaya kekerangan secara lansung dari alam sehingga memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap keberadaan atau stok sumberdaya yang tersedia. Ciri lainnya adalah menggunakan peralatan yang sederhana, tidak memerlukan dana atau investasi yang besar, tidak memiliki standar harga yang jelas, biasanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi serta pemasarannya terbatas pada pasar-pasar tradisional. Selain tiram mutiara (Pinctada sp.), sebagian besar kekerangan yang dikonsumsi dan diperjual belikan dikalangan masyarakat Kabupaten Sumbawa, pemanfaatan dan pengelolaannya masih dilakukan dengan pola tradisional ini.
Strategi dan Langkah Pengelolaan
Sampai saat ini produksi perikanan laut di Indonesia (termasuk kekerangan) masih didominasi oleh hasil tangkapan alam, baik sebagai komoditas pasar lokal maupun ekspor. Agar potensi sumberdaya kekerangan yang ada di Kabupaten Sumbawa dapat dimanfaatkan dengan optimal dan berkelanjutan sehingga dapat memenuhi kebutuhan pasar lokal dan internasional serta kelestariannya tetap terjaga maka dalam pengelolaannya memerlukan keterpaduan dan harmonisasi antara aspek ekonomi, sosial, biologi dan ekologi, yang diwujudkan dalam suatu strategi dan kebijakan yang logis sehingga bisa diterima masyarakat. Untu itu, dibutuhkan suatu rumusan strategi dan langkah pengelolaan yang terpadu dan tepat sasaran. Berdasarkan pada hasil pengamatan dan analisis penulis mengenai tingkat dan pola pemanfaatan kekerangan di Kabupaten Sumbawa, strategi yang dapat diterapkan agar pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya kekerangan di Kabupaten Sumbawa dapat dilakukan dengan optimal dan berkelanjutan dikelompokkan ke dalam strategi jangka pendek, strategi jangka menengah dan strategi jangka panjang.
• Strategi Jangka Pendek
Strategi jangka pendek ditujukan untuk membuka wawasan masyarakat dan juga pemerintah mengenai sumberdaya kekerangan baik dari aspek sosial ekonomi maupun dari sudutpandang ekologinya. Strategi jangka pendek ini dapat dilakukan dengan sosialisasi bertahap mengenai prospektif komoditas kekerangan di Kabupaten Sumbawa sebagai salah satu potensi sumberdaya perikanan dan kelautan yang sangat menjanjikan untuk dikembangkan, baik untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri maupun pasar ekspor serta berpotensi menjadi salah satu unggulan sektor perikanan dan kelautan di Kabupaten Sumbawa. Dengan berkembangnya pemikiran dan pengetahuan masyarakat mengenai prospek sumberdaya kekerangan diharapkan dari aspek sosial dan ekonomi sumberdaya ini dapat menjadi salah satu solusi alternatif dan sumber pendapatan baru masyarakat khususnya nelayan untuk meningkatkan taraf hidupnya. Disisi lain dari sudut pandang biologi dan ekologi masyarakat dan pemerintah akan turut serta dalam menjaga kelestarian sumberdaya kekerangan ini.
• Strategi Jangka Menengah
Strategi jangka menengah lebih ditujukan pada aspek teknis untuk melindungi atau menjaga ketersediaan sumberdaya kekerangan di Kabupaten Sumbawa agar tetap lestari sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Adapun strategi yang dapat dilakukan adalah melalui pembatasan akses dan tingkat pemanfaatan terhadap sumberdaya kekerangan terutama pada spesies-spesies langka dan yang keberadaannya semakin langka dan dilindungi Undang-undang. Pembatasan yang dimaksud meliputi; ukuran, kuota tangkapan, periode tangkapan, zona tangkapan, alat tangkap yang digunakan, jumlah pengguna sumberdaya dan pembatasan ijin akses pengguna ke zona tertentu. Kegiatan pembatasan akses dan tingkat pemanfaatan ini diikuti dengan upaya restoking untuk mengembalikan kondisi populasi alam.
• Strategi Jangka Panjang
Strategi jangka panjang upaya pengelolaan sumberdaya kekerangan di Kabupaten Sumbawa ditujukan untuk peningkatan taraf hidup masyarakat, mengurangi pengangguran, peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) dan peningkatan devisa negara serta menjaga kelestarian sumberdaya kekerangan khususnya bagi spesies-spesies yang keberadaannya di alam semakin langka. Secara teknis strategi jangka panjang ini dapat ditransformasikan dalam bentuk usaha budidaya. Dengan dilakukannya usaha budidaya diharapkan potensi sumberdaya alam pesisir dan laut yang terdapat di Kabupaten Sumbawa khususnya sumberdaya kekerangan dapat dimanfaatkan dengan optimal dan berkelanjutan.
Budidaya dapat dilakukan dengan memberdayakan potensi masyarakat yang ada khususnya masyarakat pesisir dan nelayan yang belakangan ini pendapatan mereka sangat tergantung pada kondisi alam terutama dengan adanya perubahan iklim gelobal (global climate change). Adanya aktifitas budidaya diharapkan masyarakat nelayan tidak lagi bergantung pada hasil tangkapan dari alam semata yang semakin hari tidak menentu.
Dedi Syafikri, S.Kel, M.Si.
Sumber :
http://www.sumbawanews.com/berita/opini/upaya-pemanfaatan-dan-pengelolaan-sumberdaya-kekerangan-di-kabupaten-sumbawa.html
